Dosa dengan rizqi

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullahu ta’ala suatu ketika ditanya oleh salah seorang lelaki, “Sesungguhnya aku melakukan banyak dosa, tetapi rizqiku tetap lancar-lancar saja. Bahkan lebih banyak dari sebelumnya.”
Sang Imam tersenyum prihatin. Beliau lalu bertanya, “Apakah semalam engkau qiyamullail, wahai Saudara?”
“Tidak.” Jawabnya heran.
“Sesungguhnya jika Allah langsung menghukum semua makhluk yang berdosa dengan memutus rizqinya niscaya manusia di bumi ini sudah habis binasa. Sungguh, dunia ini tak berharga di sisi Allah walau sehelai sayap nyamuk pun, maka Allah tetap memberikan rizqi bahkan pada orang yang kufur kepada-Nya.” Sambung beliau, “Adapun kita orang mukmin, hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah subhanahu wa ta’ala.”

hukuman atas dosa adalah terputusnya kemesraan dengan Allah subhanahu wa ta’ala

dinukil dari buku Rihlah Dakwah (Ustadz) Salim A. Fillah

Senja

Ada saat terbit, ada saat terbenam. Ada waktu fajar, ada waktu senja. Ada sunrise, juga ada sunset. Demikian pula ada masa muda, juga ada masa tua.

Terbenamnya mentari adalah pertanda bahwa hari telah usai. Sementara kalian, bagai mentari baru saja terbit yang perlahan menampakkan sinarnya. Maka sadari bahwa kalianlah sumber cahaya. Bersinarlah dan beri kehangatan pada dunia!

Agar yang berada di penghujung senja tak risau meninggalkan dan dapat terbenam dengan tenang.

Tetap berdoa

“Aku tidak peduli doaku terkabul atau tidak, yang terpenting adalah aku tetap berdoa.” Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Doaku untukmu takkan pernah putus. Tenang saja. Doaku untukmu, “Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat.”

aib diri.

Alhamdulillah. Mari bersyukur jika sampai saat ini masih dihargai orang lain. Dihargai orang lain itu bukan karena kecerdasan, kekayaan, maupun kebaikan yang ada pada diri. Akan tetapi, itu merupakan kebaikan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah masih berkenan menyembunyikan aib. Tidak bisa dibayangkan seberapa celakanya jika Allah tampakkan aib pada orang lain, takkan ada yang mau berteman, bahkan sekadar mendekati pun mungkin tak sudi.

#ntms

ditulis ulang pada 2 Mei 2016

memulai salam.

Ketika kita bertemu, semoga kamu sedang berada pada posisi berjalan sementara aku duduk, atau kamu sendirian sementara aku bersama rombongan, atau kamu berkendara sementara aku jalan kaki. Agar bukan aku yang dianjurkan memulai memberi salam. ehe.

hadits ke-7 dalam kitabul jami’ (bab adab dan kesopanan) Bulughul Maram min Adillatil Ahkam;

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Hendaklah salam itu diucapkan yang muda kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan yang sedikit kepada yang banyak.” Muttafaq Alaihi.
Menurut riwayat Muslim: “Dan yang menaiki kendaraan kepada yang berjalan.”

ditulis ulang pada 2 Mei 2016

Ketika Diam (bukan lagi) Emas

#BisaSembuh

ferindra nugrahendi

Hingar bingar mengenai LGBT ini mulai menyeruak ke media major label ketika semua negara bagian di US melegalkan LGBT secara hukum, bulan Juni tahun 2015 lalu . Kemudian dunia maya ramai dengan warna-warni pelangi yang secara sepihak mereka jadikan simbol untuk mendukung LGBT serta tagar “love wins” . Jadi kasihan sama pelangi yang dijadikan simbol 😦

Kemudian secara perlahan, mulai muncul beberapa kubu di media dalam menanggapi LGBT ini. Kubu pro LGBT yang menganggap LGBT adalah wajar dan patut dilestarikan, kubu netral yang entah tidak menunjukkan sikap terhadap LGBT, serta kubu anti LGBT yang tak lelah menuliskan pesan/nasihat untuk para penderita LGBT. Dan tulisan saya ini sebenarnya lebih ditujukan kepada pembaca yang tidak menderita LGBT namun menganggap kampanye anti LGBT itu berlebihan. Percayalah, tak ada yang berlebihan di dunia ini, kecuali perasaanku padamu, dek.

Dari beberapa tulisan yang saya baca, LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender

View original post 524 more words

Lelaki sepuh pemberi pelajaran

Pernah tidak tiba-tiba ternasehati atas suatu hal yang sesuai dengan kondisi kita pada saat itu? Saya pernah. Ini salah satunya. Waktu itu saya sedang duduk di warung pinggir jalan sambil membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke ponsel saya. Lalu, saya saksikan seorang lelaki sepuh berjalan di sepanjang trotoar menjajakan meja dan bangku yang dibawanya. Beliau menyunggi barang yang terbuat dari kayu tersebut, walau sebenarnya terlihat tidak layak melakukannya. Bayangkan saja, sudah sangat sepuh ditambah perawakannya kecil, tangan dan kaki tremor, dan nafas terengah-engah terlihat sangat letih. Beliau berhenti sekitar dua setengah meter di depan saya berbataskan pintu kaca, lalu menurunkan meja dan bangku yang disungginya untuk duduk beristirahat sejenak. Beliau menyeka keringat, lalu melepas topi yang kemudian dikibaskan untuk menahan laju keluarnya keringat. Tremor pada tangan tampak sekali. Beberapa saat kemudian, beliau melanjutkan perjalanan lagi padahal terlihat masih sangat lelah. Tentu, untuk terus berikhtiar menjajakan dagangan; menjemput rezeki.

Fragmen ini membuatku ter-freeze beberapa saat. Sedikit lebay memang, tetapi hal ini untuk menggambarkan bahwa saya tertohok. Baru saja saya merisaukan soal rezeki. Lupa bahwa tugas saya hanya ikhtiar. Lelaki sepuh tadi menunjukkan pada saya suatu ikhtiar maksimal yang bisa beliau upayakan. Ikhtiar saya masih begitu kecil, belum ada apa-apanya. Dan rezeki sudah diatur oleh Yang Mahateliti. Mahaadil. Maha Berilmu.

Maka, rezeki itu suatu kepastian yang tak seharusnya dirisaukan. Tak hanya soal harta. Tak cuma perkara uang. Tak sekadar masalah dollar.

Jogja, 7 Februari 2016

image

gambar oleh @fnugrahendi