Category Archives: celoteh

Teringat masa kecil

​Merindukan masa kecil. Masa yang menyenangkan. Belum bawa ponsel, tetapi janjian jarang terkhianati, ngampiri juga amat mudah.

Waktu itu cara ngampiri di area masjid kami cukup unik (secara tidak tertulis, seolah daerah kami cakupan pertemanannya antar masjid). Setiap yang punya sepeda -hampir semua punya sepeda- dipasang bel ting-ting di stang dekat grip. Bel ting-ting (n) adalah suatu bel yang berbunyi “ting” ketika pelatuknya ditarik lalu dilepas. Kalau sudah sampai depan rumah seorang yang diampiri, kami bunyikan bel ting-ting itu berkali-kali. “Ting ting ting ting ting.” Orang yang ada di dalam rumah pun segera keluar. Tidak butuh waktu lama.

Anti wacana dan langsung terlaksana. Ahad pagi sering saya diampiri teman dari masjid sebelah ngajakin sparing sepakbola. Segera saya keluarkan sepeda dan bergerilya ngampiri teman-teman saya. Tentu dengan bantuan bel ting-ting. Tak butuh waktu lama kami bisa kumpul dan sepakbola lawan tim dari masjid sebelah. Tarkam. Eh, tarjid. Antar masjid. Cekeran. Lapangannya di mana? Ah dulu ada banyak pilihan. Meski kami setiap hari sepakbola di ‘stadion’ konblok depan masjid, hal itu tak pernah kami tawarkan menjadi pilihan utama. Sebab mimpi buruk menanti; kaki lecet wal mlowek. Favorit kami di kidul kelurahan. Ah, sekarang sudah jadi gedung.

Jogja, 1 Desember 2016.

Senja

Ada saat terbit, ada saat terbenam. Ada waktu fajar, ada waktu senja. Ada sunrise, juga ada sunset. Demikian pula ada masa muda, juga ada masa tua.

Terbenamnya mentari adalah pertanda bahwa hari telah usai. Sementara kalian, bagai mentari baru saja terbit yang perlahan menampakkan sinarnya. Maka sadari bahwa kalianlah sumber cahaya. Bersinarlah dan beri kehangatan pada dunia!

Agar yang berada di penghujung senja tak risau meninggalkan dan dapat terbenam dengan tenang.

Tetap berdoa

“Aku tidak peduli doaku terkabul atau tidak, yang terpenting adalah aku tetap berdoa.” Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu.

Doaku untukmu takkan pernah putus. Tenang saja. Doaku untukmu, “Allahummaghfir lil muslimina wal muslimat.”

aib diri.

Alhamdulillah. Mari bersyukur jika sampai saat ini masih dihargai orang lain. Dihargai orang lain itu bukan karena kecerdasan, kekayaan, maupun kebaikan yang ada pada diri. Akan tetapi, itu merupakan kebaikan dari Allah subhanahu wa ta’ala. Allah masih berkenan menyembunyikan aib. Tidak bisa dibayangkan seberapa celakanya jika Allah tampakkan aib pada orang lain, takkan ada yang mau berteman, bahkan sekadar mendekati pun mungkin tak sudi.

#ntms

ditulis ulang pada 2 Mei 2016

Ketika Diam (bukan lagi) Emas

#BisaSembuh

ferindra nugrahendi

Hingar bingar mengenai LGBT ini mulai menyeruak ke media major label ketika semua negara bagian di US melegalkan LGBT secara hukum, bulan Juni tahun 2015 lalu . Kemudian dunia maya ramai dengan warna-warni pelangi yang secara sepihak mereka jadikan simbol untuk mendukung LGBT serta tagar “love wins” . Jadi kasihan sama pelangi yang dijadikan simbol 😦

Kemudian secara perlahan, mulai muncul beberapa kubu di media dalam menanggapi LGBT ini. Kubu pro LGBT yang menganggap LGBT adalah wajar dan patut dilestarikan, kubu netral yang entah tidak menunjukkan sikap terhadap LGBT, serta kubu anti LGBT yang tak lelah menuliskan pesan/nasihat untuk para penderita LGBT. Dan tulisan saya ini sebenarnya lebih ditujukan kepada pembaca yang tidak menderita LGBT namun menganggap kampanye anti LGBT itu berlebihan. Percayalah, tak ada yang berlebihan di dunia ini, kecuali perasaanku padamu, dek.

Dari beberapa tulisan yang saya baca, LGBT (Lesbian Gay Bisexual Transgender

View original post 524 more words

Lelaki sepuh pemberi pelajaran

Pernah tidak tiba-tiba ternasehati atas suatu hal yang sesuai dengan kondisi kita pada saat itu? Saya pernah. Ini salah satunya. Waktu itu saya sedang duduk di warung pinggir jalan sambil membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke ponsel saya. Lalu, saya saksikan seorang lelaki sepuh berjalan di sepanjang trotoar menjajakan meja dan bangku yang dibawanya. Beliau menyunggi barang yang terbuat dari kayu tersebut, walau sebenarnya terlihat tidak layak melakukannya. Bayangkan saja, sudah sangat sepuh ditambah perawakannya kecil, tangan dan kaki tremor, dan nafas terengah-engah terlihat sangat letih. Beliau berhenti sekitar dua setengah meter di depan saya berbataskan pintu kaca, lalu menurunkan meja dan bangku yang disungginya untuk duduk beristirahat sejenak. Beliau menyeka keringat, lalu melepas topi yang kemudian dikibaskan untuk menahan laju keluarnya keringat. Tremor pada tangan tampak sekali. Beberapa saat kemudian, beliau melanjutkan perjalanan lagi padahal terlihat masih sangat lelah. Tentu, untuk terus berikhtiar menjajakan dagangan; menjemput rezeki.

Fragmen ini membuatku ter-freeze beberapa saat. Sedikit lebay memang, tetapi hal ini untuk menggambarkan bahwa saya tertohok. Baru saja saya merisaukan soal rezeki. Lupa bahwa tugas saya hanya ikhtiar. Lelaki sepuh tadi menunjukkan pada saya suatu ikhtiar maksimal yang bisa beliau upayakan. Ikhtiar saya masih begitu kecil, belum ada apa-apanya. Dan rezeki sudah diatur oleh Yang Mahateliti. Mahaadil. Maha Berilmu.

Maka, rezeki itu suatu kepastian yang tak seharusnya dirisaukan. Tak hanya soal harta. Tak cuma perkara uang. Tak sekadar masalah dollar.

Jogja, 7 Februari 2016

image

gambar oleh @fnugrahendi

Bocah

Rabu lalu saat akan shalat zhuhur di suatu masjid, saya merekam sebuah kejadian yang bisa diambil pelajaran, khususnya untuk saya. Waktu itu selesai saya wudhu, saat keluar dari bilik perkeranan ada seorang bocah tampak sedang akan melepas sepatunya. Kira-kira usianya baru 4 atau 5 tahun. Usia-usia TK gitu lah. Saat sedang melepas sepatu sebelah kanan, dari kejauhan dia dipanggil oleh seseorang yang kemudian saya ketahui merupakan bapak dari bocah tersebut.
“Le, ayo!” ujar sang bapak.
“Sholat ndisik Pak!” jawab si bocah.
“Ayo ayo.” sahut bapaknya lagi sambil ngawe-awe mengajak si bocah mendekat.
Si bocah pun memakai kembali sepatunya dan menuju ke arah sang bapak sambil berkata, “Bapak ki mbok sholat. Bapak kapan sholate?”
Sang bapak tak menjawab dan terlihat seperti ke-skakmat dengan pertanyaan itu. Si bocah beberapa kali melontarkan pertanyaan yang hampir sama, lalu sang bapak mengajak masuk si bocah ke sebuah rumah.
Saya kagum kepada bocah tersebut. Bocah sekecil itu sudah mampu berkata demikian. Tandanya sudah ada ilmu padanya. Walaupun akhirnya tidak jadi sholat, tetapi perkataannya –dugaanku– cukup mengagetkan sang bapak, terlihat dari raut mukanya.
Semoga si bocah menjadi lelaki shalih berilmu yang senantiasa mendoakan orangtuanya. Semoga sang bapak menjadi seorang yang selalu meningkat kadar keimanan dan ketakwaannya pada Allah. Semoga Allah beri taufik pada kita.

Jogja, 17 Januari 2016