Sudah bisa apa?

​Saya sepakat bahwa menikah bukan soal cepet-cepetan, tetapi soal kesiapan. Lelaki berusia 19 tahun yang sudah menyiapkan diri sejak menjadi siswa kelas 10 jauh lebih layak menikah dibanding orang berusia di atas ‘kepala tiga’ yang tak kunjung bersikap dewasa.
Maka bagaimana kesiapanmu?

Saya tidak ingin membahas ‘tukang kompor’ yang makin jahat tak solutif kepada para jomblo. Juga tidak ingin mempersoalkan rapuhnya para jomblo zaman ini yang dikit-dikit perasaannya terbawa. Baper katanya.

Agaknya menikah butuh kesiapan, baper saja tidak cukup, Mblo. Maka bagaimana kesiapanmu?

Ada teladan dari manusia paling mulia, Sang Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika ditanya tentang aktivitas Nabi di rumah, ibunda ‘Aisyah menjawab, “Beliau melayani keluarga, menjahit baju, mengesol sandal, memerah susu, mengerjakan keperluan sendiri, dan menambal timba. Begitu tiba waktu shalat, beliau shalat.”

Nah bro, keperluanmu sendiri sudah ‘under control’ belum? 

Barangkali hal itu bukan merupakan parameter utama kesiapan menikah. Jadikan sebagai bahan refleksi. Rasulullah dengan segala peran dan aktivitas saja masih bisa melakukan demikian. Kamu sesibuk apa? Mari diupayakan nantinya. Semoga berpahala ittiba’ pula.

Sedang bercermin.
Jogja, 25 Januari 2017

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s