Teringat masa kecil

​Merindukan masa kecil. Masa yang menyenangkan. Belum bawa ponsel, tetapi janjian jarang terkhianati, ngampiri juga amat mudah.

Waktu itu cara ngampiri di area masjid kami cukup unik (secara tidak tertulis, seolah daerah kami cakupan pertemanannya antar masjid). Setiap yang punya sepeda -hampir semua punya sepeda- dipasang bel ting-ting di stang dekat grip. Bel ting-ting (n) adalah suatu bel yang berbunyi “ting” ketika pelatuknya ditarik lalu dilepas. Kalau sudah sampai depan rumah seorang yang diampiri, kami bunyikan bel ting-ting itu berkali-kali. “Ting ting ting ting ting.” Orang yang ada di dalam rumah pun segera keluar. Tidak butuh waktu lama.

Anti wacana dan langsung terlaksana. Ahad pagi sering saya diampiri teman dari masjid sebelah ngajakin sparing sepakbola. Segera saya keluarkan sepeda dan bergerilya ngampiri teman-teman saya. Tentu dengan bantuan bel ting-ting. Tak butuh waktu lama kami bisa kumpul dan sepakbola lawan tim dari masjid sebelah. Tarkam. Eh, tarjid. Antar masjid. Cekeran. Lapangannya di mana? Ah dulu ada banyak pilihan. Meski kami setiap hari sepakbola di ‘stadion’ konblok depan masjid, hal itu tak pernah kami tawarkan menjadi pilihan utama. Sebab mimpi buruk menanti; kaki lecet wal mlowek. Favorit kami di kidul kelurahan. Ah, sekarang sudah jadi gedung.

Jogja, 1 Desember 2016.

Advertisements

3 thoughts on “Teringat masa kecil

  1. bener banget mas,. nostalgia masa kecil itu selalu indah..
    meski mainnya ya itu2 aja.. paling juga di situ2 aja,. tapi suasananya selalu rame, seru,. menyenangkan. Alhamdulillah 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s