Kala Menikah, Apa yang Kau Cari?

Oleh : Shibghotullah Syubbanur Robbani

Sering kali terdengar ungkapan do’a ketika kita mendapati acara pernikahan atau memperoleh kabar bahwa saudara kita seiman baru saja melangsungkan pernikahan. Do’a tersebut kurang lebih berisi harapan semoga keluarga mempelai menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah (SAMARA). Apakah do’a tersebut salah? Tentu tidak, karena ungkapan kata tersebut juga terdapat dalam Al-Qur`an, yaitu dalam Surah Ar-Ruum ayat 21. Tetapi apakah tiga hal tadi merupakan sesuatu yang kita cari dan cita-citakan dalam pernikahan? Mari bersama kita menyimak ayatnya serta makna sakinah, mawaddah, wa rahmah sesuai apa yang ditafsirkan olah para mufassir.

Wa min aayaatihii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmatan. Inna fii dzaalika la`aayaatin liqaumin yatafakkaruun.
Ar-Ruum: 21

Dan dari tanda-tanda kebesaranNya, Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa cinta dan kasih. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berifkir.

  • Tafsir Muyassar, Tim Ulama Saudi

Dan diantara tanda-tanda kebesaranNya yang menunjukkan keagungan dan kesempurnaan kuasaNya, Allah menciptakan untuk kepentingan kalian pasangan-pasangan dari jenis kalian sendiri. Agar jiwa-jiwa kalian merasa tenang dan tentram terhadapnya. Allah menjadikan diantara wanita dan suaminya ada cinta serta kasih sayang. Sesungguhnya dalam penciptaan tersebut terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang bertafakkur dan bertadabbur.

  • Tafsir Al-Wasith

Ayat ini menunjukkan kesempurnaan kuasaNya dan belas kasih terhadap hamba-hambaNya, Allah berfirman: {wa min aayaatihii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan} yaitu merupakan tanda-tanda kasih sayangNya terhadapmu bahwasannya Allah swt telah menciptakan bagimu {min anfusikum} yaitu dari jenis kalian sendiri, dari golongan manusia pasangan-pasanganmu.

Imam Al-Alusi berkata:  firman Allah ta’ala {min anfusikum azwaajan} yaitu menjelaskan penciptaan asal dari pasangan-pasangan kalian adalah Hawa yang berasal dari tulang rusuk Adam as, mengandung makna penciptaan pasangan-pasangan dari jenis kalian. Kata min (dari) pada ayat tersebut bisa berarti menunjukkan bagian-bagian (At-Tab’iidh) dan kata anfus (jiwa) memiliki makna sebenarnya. Boleh juga memaknai kata min sebagai makna permulaan (Al-Ibtidaa`iyyah) dan kata anfus merupakan kiasan dari kata jenis, maksudnya Allah swt menciptakan untukmu pasangan-pasangan dari jenismu bukan dari jenis lain. Dikatakan: paling pas adalah makna min yang kedua (Al-Ibtidaa`iyyah).

Allah swt berfirman: {litaskunuu ilaihaa} menjadi penjelasan sebab penciptaan pasangan dengan cara tersebut. Maksudnya Allah menciptakan pasangan-pasangan dari jenismu, agar engkau merasa tenteram terhadapnya dan memiliki kecenderungan satu dengan yang lain, karena sesungguhnya jenis satu dengan yang lain pasti ada kecenderungan. Satu macam dengan macam serupa lebih banyak terbentuk keserasian dan keharmonisan. Dan {ja’ala} –Allah swt—{bainakum} wahai sekalian para suami dan istri {mawaddatan wa rahmatan} yaitu rasa suka dan sayang yang belum terjadi di antara kalian sebelumnya. Sesungguhnya tata cara pernikahan yang telah Allah swt syari’atkan antara laki-laki dan perempuan, telah Allah sifatkan dengan sifat yang lembut sebagaimana dalam firmanNya: {Hunna libaasun lakum wa antum libaasun lahun} mereka para istri adalah pakaian bagi kalian dan kalian para suami adalah pakaian bagi mereka. {inna fii dzaalika} sebagaimana yang telah kami sebutkan sebelumnya {la`aayaatin} adalah tanda-tanda keagunganNya yang menunjukkan kebenaran dan kehormatan {liqaumin yatafakkaruun} untuk kaum yang berfikir dalam segala fenomena kekuasaan Allah dan kasih sayang kepada makhluqNya.

  • Tafsir Taisir, As-Sa’di

{wa min aayaatihii} merupakan dalil yang menunjukkan kasih sayang Allah, penjagaan kepada hamba-hambaNya, hikmahNya yang agung, serta ilmuNya yang luas. {an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan} Allah menciptakan dari jenis kalian sehingga kalian cocok satu dengan yang lain dan memiliki kemiripan bentuk fisik. {litaskunuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmatan} sebagaimana telah ditetapkan atas pernikahan yang hal itu menjadikan sebab medatangkan rasa cinta dan sayang. Maka seorang suami/istri akan merasakan kenikmatan, kelezatan, manfaat dengan hadirnya anak-anak dan pendidikan terhadap mereka, serta rasa tenteram kepada pasangan. Tidak akan didapatkan rasa cinta dan sayang dalam diri seseorang yang mengalahkan rasa cinta yang terdapat antara sepasang kekasih. {inna fii dzaalika la`aayaatin liqaumin yatafakkaruun} yaitu tanda-tanda bagi kaum yang mengamalkan pikiran-pikiran mereka, mentadabburi kebesaran-kebesaranNya, dan mempelajari dari satu hal ke lain hal.

  • Tafsir Al-Baghawi

{wa min aayaatihii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan} maksudnya Allah swt menciptakan pasangan dari jenis kalian, dari anak Adam as. Dalam sebuah riwayat Hawa diciptakan dari tulang rusuk Adam as. {litaskunuu ilaihaa wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmatan} Allah swt menjadikan antara dua pasangan terwujud cinta dan sayang sehingga mereka berdua saling mencintai dan menyayangi. Tidak ada sesuatu hal yang lebih mereka sukai dari pasangannya melainkan rasa sayang antara keduanya. {inna fii dzaalika la`aayaatin liqaumin yatafakkaruun} dalam hal terebut terdapat tanda-tanda bagi kaum yang bertafakkur dalam segala keagungan Allah dan kuasaNya.

  • Tafsir Ibnu Katsir

Firman Allah ta’ala {wa min aayaatihii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan} maksudnya adalah Allah menciptakan bagi kalian dari jenis perempuan yang akan menjadi pasangan-pasangan bagi kalian {litaskunuu ilaihaa} agar merasakan ketentraman sebagaimana firman Allah yang lain {huwalladzii khalaqakum min nafsin waahidatin wa ja’ala minhaa zaujahaa liyaskuna ilaihaa} Dia lah yang menciptakan kalian dari satu jiwa dan menjadikan darinya pasangan agar ia merasa tenteram kepadanya yaitu seperti Allah menciptakan Hawa dari Adam as dari tulang rusuknya paling pendek sebelah kiri. Jika seandainya Allah menjadikan anak Adam seluruhnya laki-laki dan menjadikan perempuannya dari jenis lain selain manusia semisal jin atau binatang maka sungguh tidak akan menghasilkan keserasian antara mereka dan antara pasangan mereka, tetapi akan menghasilkan kebencian andai pasangan dicipta dari jenis lain. Merupakan bentuk kesempurnaan kasih sayangNya dengan anak Adam, Allah menjadikan pasangan-pasangan dari jenis mereka sendiri dan menjadikan antara pasangan terdapat mahabbah yaitu rasa cinta dan rahmah yaitu rasa sayang. Sesungguhnya seorang laki-laki itu memperistri seorang wanita bisa karena cinta kepadanya atau sayang kepadanya agar dengan dirinya menjadi wasilah hadir seorang anak atau wanita itu membutuhkan nafkah darinya atau karena persahabatan antara keduanya, dsb. {inna fii dzaalika la`aayaatin liqaumin yatafakkaruun} sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

  • Tafsir Al-Qurthubi

Makna {khalaqa lakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilaihaa} yaitu para wanita merasa tenteram kepada suaminya. {min anfusikum} artinya dari air mani laki-laki dari jenis kalian sendiri. Dikatakan: yang dimaksud adalah Hawa, Allah menciptakannya dari rusuk Adam as. Qatadah berkata: “{wa ja’ala bainakum mawaddatan wa rahmatan} menurut riwayat dari Ibnu Abbas dan Mujahid: mawaddah maksudnya adalah jima’, dan rahmah maksudnya adalah anak”. Al-Hasan berkata: “Yang dimaksud dengan mawaddah wa rahmah adalah hati mereka menaruh simpati satu sama lain”. As-Suddi berkata: “Mawaddah adalah rasa suka dan rahmah adalah rasa kasih”. Diriwayatkan secara makna dari Ibnu Abbas, beliau berkata: “Mawaddah adalah rasa suka seorang laki-laki terhadap istrinya dan rahmah merupakan kasih sayang terhadapnya ketika sang istri terkena musibah”. Dikatakan dalam sebuah riwayat: “Sesungguhnya laki-laki itu berasal dari tanah dan di dalamnya terdapat kekuatan bumi, padanya terdapat kemaluan yang darinya lah awal ia diciptakan dan membutuhkan tempat menetap. Sedangkan perempuan diciptakan sebagai tempat menetap tersebut bagi laki-laki sebagaimana firman Allah ta’ala: {wa min aayaatihii an khalaqakum min turaabin} dan dari tanda-tanda kebesaranNya, Dia menciptakan kalian dari tanah. Firman Allah {wa min aayaatihii an khalaqa lakum min anfusikum azwaajan litaskunuu ilaihaa} menunjukkan manfaat pertama yang dirasakan seorang laki-laki adalah rasa tentram terhadap istrinya dari segala kekuatan yang bergejolak dalam diri, itu mengisyaratkan bahwa kemaluan jika di dalamnya ada gairah yang bergejolak maka kepada istrinya ia merasakan ketentraman dan dengannya ia terlepas dari gejolak dalam diri”. Bagi para lelaki telah dicocokkan perkawinan dengan para perempuan, Allah ta’ala berfirman: {wa tadzaruuna maa khalaqa lakum rabbukum min azwaajikum} dan kamu (kaum luth) meninggalkan istri-istri yang dijadikan oleh Tuhanmu untukmu, maka Allah ‘azza wa jalla sungguh lebih mengetahui bahwa perempuan diciptakan untuk laki-laki, maka wajib atas istri untuk menurut pada suami di setiap waktu ketika suaminya memanggil. Maka sesungguhnya, jika seorang istri menolak ajakan suaminya ia telah melakukan kezhaliman yang termasuk dosa besar. Maka cukup bagi istri dengan apa yang telah ditetapkan dalam shahih muslim dari hadits Abu Hurairah, beliau berkata: RasuluLlah saw bersabda: “Demi jiwaku yang berada di tanganNya, tidak ada seorang suami pun yang mengajak istrinya ke ranjang kemudian ia membangkang suaminya melainkan penghuni langit murka atasnya hingga suaminya ridha kepadanya”. Dan pada lafadz yang lain: “Apabila seorang perempuan telah menikah kemudian meninggalkan ranjang suaminya, para malaikat akan melaknatnya hingga pagi”.

Setelah mencermati apa yang telah disampaikan oleh para mufassir, kita bisa mengambil beberapa kesimpulan sederhana. Kata sakinah yang sering kita dengar, pada Al-Qur`an disebut dengan lafadz litaskunuu merupakan sebab diciptakannya pasangan jenis manusia, yaitu adanya laki-laki dan perempuan agar terdapat ketentraman jiwa antara mereka. Sedangkan kata mawaddah wa rahmah dijelaskan di atas sebagai hal yang otomatis terwujud pada manusia yang berpasangan. Anugerah SAMARA merupakan nikmat yang Allah berikan kepada pasangan umat manusia dan tidak ada pengkhususan nikmat tersebut terhadap orang muslim saja. Tiga nikmat tersebut bisa diperoleh dengan syarat pasangan terdiri dari manusia antara laki-laki dan perempuan. Sesederhana itu.

Ternyata SAMARA hanya bentuk pernikahan standar. Bukan ideal. Lalu, apa istilah yang tepat untuk pernikahan ideal yang dicita-citakan dan diupayakan terwujud itu? Jika merujuk pada do’a yang diucapkan Nabi saw pada mempelai [baarakaLlahu laka, wa baaraka ‘alaika wa jama’a bainakumaa fii khairin] semoga Allah memberkahi pada keadaan senangmu dan memberkahi di saat sulitmu serta mengumpulkan kalian berdua dalam kebaikan, maka pernikahan ideal itu lebih pas disebut sebagai pernikahan barakah. Apa itu barakah? Barakah menurut salah seorang ulama adalah ziyaadatul khair, bertambahnya kebaikan-kebaikan. Sebagai contoh, harta yang barakah adalah harta saat sedikitnya mencukupi dan ketika banyaknya memberi manfaat luas.

Wallahu a’lam.

Advertisements

One thought on “Kala Menikah, Apa yang Kau Cari?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s