Terbit atau Tenggelam?

Apa yang kamu pikirkan tentang judul tulisan ini?

Sepertinya memang ada banyak makna kalau cuma baca judulnya aja, tapi mungkin makna yang paling mendekati di hari-hari ini adalah semacam semangat atau gairah yang terbit  (move-on ) ataukah tenggelam (nglokro/malas/rapuh). Namun, bukan itu yang akan saya bahas.

Terbit dan tenggelam yang akan saya bahas adalah tentang makhluk yang paling melekat dengan kedua kata itu. Apakah itu? Yak betul, matahari. Matahari terbit (sunrise) dan matahari tenggelam (sunset).

Kamu lebih suka mana? Matahari terbit atau tenggelam? Sunrise or sunset? Fajar ataukah senja? Pasti tiap orang punya jawaban berbeda, tergantung visualisasi yang dilakukan masing-masing. Atau kesan yang dialami masing-masing. Apapun alasanmu, okelah. Saya tidak akan membandingkan antara keduanya, hanya ingin sedikit menuliskannya satu persatu.

Sunrise/Matahari Terbit/Fajar

20131017_053507Matahari terbit menandakan telah usainya waktu fajar. Matahari muncul atas izin Allah mengantar kehangatan memberi semangat beraktivitas pagi dalam menuntut ilmu dan bekerja. Fajar memang istimewa, sampai Allah pun bersumpah demi waktu fajar, yaitu di dalam Quran Surat Al-Fajr ayat satu. Kalau Allah bersumpah dengan sesuatu itu menandakan sesuatu tersebut terdapat keutamaan. Maka waktu fajar itu amatlah penting, eman-eman kalau ketinggalan. Coba kita telaah, di dalam waktu fajar itu terdapat beberapa amalan, wajib maupun sunnah; shalat subuh, shalat sunnah 2 rakaat sebelum subuh, tilawah al Quran, dzikir pagi, menelaah kitab, membaca buku.

Sunset/Matahari Tenggelam/Senja

DSC_0295

 Matahari tenggelam menandakan menjelang bergantinya hari dalam hijriah. Tenggelamnya matahari atas izin Allah seakan-akan mengingatkan kita untuk segera usai atas aktivitas “dunia” menuju bermunajat kepada-Nya. Seperti fajar, senja juga istimewa karena Allah besumpah dengan waktu senja di dalam al Quran Surat al Insyiqaaq ayat 16. “Falaa uqsimu bisy syafaq”; “Maka sesungguhnya Aku (Allah) bersumpah dengan cahaya merah di waktu senja.” Selepas waktu senja terdapat shalat maghrib, juga disunnahkan membaca dzikir petang.

Kedua hal yang saya bahas di atas bermuara pada satu hal; waktu. Manusia yang menggunakan waktu dengan baik untuk banyak beribadah kepada Allah dan beramal shalih, dialah nantinya penghuni Surga. Semoga ini menjadi nasehat, terutama bagi yang menulis ini.

Terakhir, pengen sedikit mendeskripsikan kedua foto yang saya pakai di atas. Foto pertama, sunrise, itu diambil di hari kedua tasyrik (12 Dzulhijjah 1434 H) saat Qurban di Gunungkidul. Lokasinya di bukit yang ada di pantai Indrayanti (kebetulan lokasi Qurbannya deket pantai, jadi cuss aja paginya). Pakai kamera ponsel Samsung GT-I8150 trus diberi sedikit sentuhan edit dengan aplikasi android pixlr express. Foto kedua, sunset, diambil sudah sejak sekitar 2 bulan sebelum foto pertama diambil saat survei tempat Qurban. Lokasinya di jalan pantai Ngrenehan menuju Kota Jogja. Pakai kamera ponsel Sony Ericsson MK-16i trus diberi sedikit sentuhan edit aplikasi android pixlr express. Kamu lebih suka yang mana?

Tambahan, yang boleh bersumpah dengan benda-benda atau hal lain hanyalah Allah ta’ala, menandakan ada keutamaan di dalamnya bagi manusia. Manusia tidak boleh bersumpah dengan selain Allah ta’ala. Semoga bermanfaat, terutama bagi yang menulis. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s