Sebuah Renungan Diri

 

Ambillah kesempatan lima sebelum lima: mudamu sebelum tua, sehatmu sebelum sakit, kayamu sebelum melarat, hidupmu sebelum mati, dan senggangmu sebelum sibuk. (HR. Al Hakim dan Al-Baihaqi)

Sudah berapa usia kita saat ini? Mungkin kita masih muda ataupun belum terlalu tua, tetapi adakah yang bisa menjamin bahwa hidup kita masih lama? Apakah lebih lama dari kakek atau nenek kita? Tidak akan ada yang bisa menjamin dan tidak ada yang tahu kapan kita dipanggil menghadap Sang Pencipta -Allah ‘Azza wa Jalla-. Mungkin tahun depan, mungkin beberapa bulan lagi, atau bulan depan, mungkin juga pekan depan, mungkin lusa, atau besok, atau mungkin beberapa menit lagi kita dipanggil, kita tidak tahu.  Kita terhijab dengan hal -kabar kematian- tersebut, tak akan ada yang tahu. Paling pol ya saat dokter memvonis penyakit kronis seseorang yang diperkirakan hanya bisa bertahan satu bulan lagi. Namun, apakah itu pasti terjadi? Tentu tidak.

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (QS. Al-A’raf : 34)

Apa yang sudah kita lakukan dengan usia yang semakin menua? Semakin menua berarti semakin dekat pula kematian, tak mungkin semakin jauh. Semakin tambah usia semakin kurang kesempatan hidup di dunia. Mungkin banyak orang yang bilang bahwa masih remaja tu diseneng-senengin aja, masa muda cuma sekali euy, ngapain kita harus banyak beramal ini itu, ntar bisa-bisa kita masuk aliran sesat. Kalimat inilah yang biasa menjebak anak muda. Kalimat ini yang biasa menjadi prinsip andalan remaja. Kalimat ini pula yang mungkin menjadi “senjata” bagi para pemuda untuk ogah ikut pengajian. Saya yakin semua pemuda ingin berbuat demikian, termasuk saya. Namun, yang menjadi permasalahan adalah kita tidak tahu kapan ajal tiba. Jika kita mati di usia muda gimana? Jika kita mati dalam keadaan sedang bermaksiat kepada Allah gimana? Itulah permasalahan utamanya. Maka solusi terbaik sudah jelas, yakni berusaha meningkatkan ketaqwaan dan senantiasa mempertebal keimanan kepada Allah ta’ala dan menjauhkan diri dari maksiat. Firman Allah dalam Quran Surat at-Thalaq ayat 2-3,“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, maka Allah akan membuat untuknya jalan keluar -dari segala macam kesulitan- dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” Jadi sewaktu-waktu ajal menjemput, kita sedang berada dalam kondisi mengingat Allah dengan akhir yang baik (khusnul khatimah). InsyaAllah.

Semoga Allah ta’ala selalu memberikan nikmat sehat dan lapang kepada kita agar bisa terus beribadah kepadaNya dengan sekuat-kuatnya, semaksimal mungkin.

Rasulullah saw. bersabda, “Ada dua kenikmatan yang membuat banyak orang terpedaya yakni nikmat sehat dan waktu senggang*.” (HR. Bukhari)

*Artinya, saat-saat sehat dan waktu senggang / luang orang sering menggunakannya untuk melakukan perbuatan yang sia-sia dan terlarang.

Ini memang tulisan yang serius hasil renungan diri dan bertujuan untuk mengingatkan diri. Saya berpikir alangkah baiknya jika di-post-kan agar ada yang teman-teman mengoreksi, menambahkan, atau mengkritik tulisan saya ini.

Semoga tulisan ini bermanfaat. Wallahu A’lam.

sumber foto: http://www.acehfotografer.net/r-human-interest-2-merenung-7286.htm
Advertisements

2 thoughts on “Sebuah Renungan Diri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s