Iman dan istiqomah

bismillah…

dari Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi _radhiyallahu ‘anhu_ dia berkata : “ya Rasulullah, katakan kepadaku suatu perkataan dalam islam, yang aku tidak akan lagi bertanya tentangnya, kepada salah seorang pun selain kepadamu.” Rasulullah menjawab : katakanlah : ‘saya beriman kepada Allah’ kemudian istiqomahlah.

(hadits riwayat Muslim)

Abu Sufyan bin Abdillah ats-Tsaqafi adalah salah seorang dari penduduk Thaif. beliau adalah sahabat yang terbuka hatinya untuk menerima dakwah Rasulullah, meski saat itu mayoritas penduduk Thaif adalah penentang dakwah Rasulullah yang keras.
hadits ini adalah hadits yang singkat namun memiliki makna yang agung. Rasulullah merangkum asas dasar islam hanya dalam dua kata “iman dan istiqomah”.
kata iman dalam hadits ini berarti tauhid atau akidah shahihah. sedangkan kata istiqomah maksudnya adalah beristiqomah dalam keimanan tersebut. 
bertauhidlah lalu istiqomahlah dalam tauhidmu.
mengapa selain keimanan, istiqomah juga disebutkan dalam hadits ini?

karena dalam bertauhid kita harus istiqomah, dan keistiqomahan itu bergantung pada seberapa dalam kita memahami akidah (mengilmui akidah).
bangunan tauhid yang tidak terpondasi ilmu, akan menjadi sangat berbahaya.

para ‘ulama berkata :

setiap siapapun yang bertaqlid dalam masalah tauhid, maka imannya itu akan mudah berubah dan terombang-ambing.
tauhid tidak sekedar keyakinan, namun juga harus diilmui. hukum taqlid dalam masalah akidah adalah haram. sedangkan bertaqlid dalam masalah fiqih diperbolehkan bagi orang yang awam.
amal sedikit yang dibangun di atas tauhid yang benar lebih baik dari amal banyak yang dibangun di atas pondasi tauhid yang salah.
sungguh akan hancur amal kebaikan yang tercampur dengan kesyirikan.

sungguh rugi orang yang banyak berbuat kebaikan namun tertolak oleh Allah karena kesyirikan.
segala sesuatu amalan, sangat bergantung pada tauhid. maka rukun iman didahulukan atas rukun islam dan ihsan.

(hadits Jibril)
orang yang bartauhid lalu istiqomah di atas keimanannya, ia akan dikelilingi para malaikat. sebagaimana firman Allah dalam surat Fushshilat : 30

_”sesungguhnya orang-orang yang mengatakan ‘Tuhan kami adalah Allah ‘ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan : ‘janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih’._
sungguh tidaklah seorang beriman yang beristiqomah merasakan ketakutan dan kesedihan karena hati mereka telah terpaut pada Allah dan mereka berserah diri pada Allah.
wallahu a’lam bisshawwab.

__________

✏diresume oleh :

Ummu Zayn

​[Resume Ngaji Amida]

jum’at 14 juli 2017

Tafsir hadits arba’in ke-21

*Iman dan Istiqomah*

pembicara ustadz Heri Mahfudhi Lc.

Al-Qur`an adalah solusi

​Hari Sabtu beberapa waktu yang lalu mendapatkan inspirasi berharga di acara salam sale; seminar dagang Islam. Tentang Al-Qur`an. Bahwa solusi atas permasalahan kita sebenarnya ada di dalam Al-Qur`an. Hanya kita saja yang malas mencarinya. Malas mempelajarinya. Malas mentadabburinya.

Pak Muhaimin Iqbal, pembicara salam sale, yang begitu menginspirasi, telah banyak mentadabburi Al-Qur`an, bahkan sudah mengamalkannya. Diantaranya ayat 27 surah as-Sajdah terdapat petunjuk bahwa terdapat tanaman biji-bijian yang oleh Allah diprioritaskan penggunaannya untuk pakan ternak, lalu selanjutnya barulah digunakan untuk manusia. Juga ayat-ayat lain yang saya yakin masih sedang terus beliau tadabburi. Lha wong tiap ke Jogja ada hal baru yang disampaikan beliau.

Maka benarlah bahwa Al-Qur`an adalah panduan hidup. Kalau tidak salah seorang shahabat radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika tali kekang untaku hilang, aku akan mencarinya di dalam Al-Quran.” Maka seharusnya mencari solusi adalah dengan Al-Quran. Tiada keraguan padanya.

Kalau mau update tentang gagasan Pak Iqbal, silakan kunjungi geraidinar.com

Jogja, 24 Maret 2017

Sudah bisa apa?

​Saya sepakat bahwa menikah bukan soal cepet-cepetan, tetapi soal kesiapan. Lelaki berusia 19 tahun yang sudah menyiapkan diri sejak menjadi siswa kelas 10 jauh lebih layak menikah dibanding orang berusia di atas ‘kepala tiga’ yang tak kunjung bersikap dewasa.
Maka bagaimana kesiapanmu?

Saya tidak ingin membahas ‘tukang kompor’ yang makin jahat tak solutif kepada para jomblo. Juga tidak ingin mempersoalkan rapuhnya para jomblo zaman ini yang dikit-dikit perasaannya terbawa. Baper katanya.

Agaknya menikah butuh kesiapan, baper saja tidak cukup, Mblo. Maka bagaimana kesiapanmu?

Ada teladan dari manusia paling mulia, Sang Baginda shallallahu ‘alaihi wasallam. Ketika ditanya tentang aktivitas Nabi di rumah, ibunda ‘Aisyah menjawab, “Beliau melayani keluarga, menjahit baju, mengesol sandal, memerah susu, mengerjakan keperluan sendiri, dan menambal timba. Begitu tiba waktu shalat, beliau shalat.”

Nah bro, keperluanmu sendiri sudah ‘under control’ belum? 

Barangkali hal itu bukan merupakan parameter utama kesiapan menikah. Jadikan sebagai bahan refleksi. Rasulullah dengan segala peran dan aktivitas saja masih bisa melakukan demikian. Kamu sesibuk apa? Mari diupayakan nantinya. Semoga berpahala ittiba’ pula.

Sedang bercermin.
Jogja, 25 Januari 2017

Barangkali lupa

​Sewaktu kecil kita diajari untuk makan dalam keadaan duduk, oleh guru TK dan guru SD, maupun guru TPA. Tidak boleh makan dalam keadaan berdiri, apalagi berjalan. Bahkan mungkin ada yang sampai dihukum kalau ketahuan. Nampaknya ajaran ini perlahan dilupakan seiring bertambahnya usia. Ini saya perhatikan dalam setiap menghadiri acara resepsi pernikahan. Ada beberapa bahkan cukup banyak tamu undangan yang berdiri saat menyantap makanan dan minuman. Dipandang kurang nyaman dan kadang nyrimpeti tamu lain saat mengambil hidangan.

Memang kadang ada penyelenggara yang hanya menyediakan seuplik tempat duduk, tapi bukan berarti tidak ada kan ya, bisa diusahakan untuk mencari tempat yang bisa diduduki. Coba kita kembali mengingat pelajaran dari guru kita soal adab makan. Sedikitnya beberapa hal ini yang diajarkan, yaitu berdoa sebelumnya, dalam keadaan duduk, pakai tangan kanan, dan mulai dari yang terdekat. Sebagaimana yang dicontohkan oleh Sang Baginda. Beliau, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Wahai anak muda, sebutlah Nama Allah (bismillah), makanlah dengan tangan kananmu dan makanlah dari apa-apa yang dekat denganmu.”

Soal minum, memang ada penjelasan berbeda. Kebetulan ada pembahasan seorang guru yang saya catat. Pertama, terdapat hadits larangan minum dalam keadaan berdiri seperti tertulis dalam Bulughul Maram, bab Kitabul Jami’. Kedua, terdapat hadits lain yang menunjukkan adanya riwayat Nabi minum dalam keadaan berdiri. Hadits dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa saat minum air zam-zam, Nabi dalam keadaan berdiri. Ada pula hadits dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau (Ali) suatu saat minum dalam keadaan berdiri, kemudian ada komentar dari sahabat lain, “Kenapa dalam keadaan berdiri?” Ali menjawab, “Sungguh, aku pernah melihat Nabi minum dalam keadaan berdiri.” Kesimpulannya yaitu minum dalam keadaan berdiri itu ora ilok, jauh lebih utama duduk. Hukumnya makruh.

Nah, barangkali kemarin lupa soal adab makan ini, termasuk saya, maka tulisan ini mencoba mengingatkan. Berikutnya mari cari tempat duduk, lalu santap dengan khusyuk. Nak nan.

Jogja, 27 Desember 2016

Teringat masa kecil

​Merindukan masa kecil. Masa yang menyenangkan. Belum bawa ponsel, tetapi janjian jarang terkhianati, ngampiri juga amat mudah.

Waktu itu cara ngampiri di area masjid kami cukup unik (secara tidak tertulis, seolah daerah kami cakupan pertemanannya antar masjid). Setiap yang punya sepeda -hampir semua punya sepeda- dipasang bel ting-ting di stang dekat grip. Bel ting-ting (n) adalah suatu bel yang berbunyi “ting” ketika pelatuknya ditarik lalu dilepas. Kalau sudah sampai depan rumah seorang yang diampiri, kami bunyikan bel ting-ting itu berkali-kali. “Ting ting ting ting ting.” Orang yang ada di dalam rumah pun segera keluar. Tidak butuh waktu lama.

Anti wacana dan langsung terlaksana. Ahad pagi sering saya diampiri teman dari masjid sebelah ngajakin sparing sepakbola. Segera saya keluarkan sepeda dan bergerilya ngampiri teman-teman saya. Tentu dengan bantuan bel ting-ting. Tak butuh waktu lama kami bisa kumpul dan sepakbola lawan tim dari masjid sebelah. Tarkam. Eh, tarjid. Antar masjid. Cekeran. Lapangannya di mana? Ah dulu ada banyak pilihan. Meski kami setiap hari sepakbola di ‘stadion’ konblok depan masjid, hal itu tak pernah kami tawarkan menjadi pilihan utama. Sebab mimpi buruk menanti; kaki lecet wal mlowek. Favorit kami di kidul kelurahan. Ah, sekarang sudah jadi gedung.

Jogja, 1 Desember 2016.

Kepolosan Anak-Anak

​Suatu saat saya bertanya, “Adek-adek, coba tuliskan nama bapak atau ayah atau papamu di bukumu masing-masing!”

Lalu ada yang tanya, “Nama panggilan boleh mas? Aku nggak hafal nama panjangnya e.”

“Oke, nama panggilan juga boleh.”

Setelah dikumpul, saya lihat buku bocah tadi, ternyata yang ditulis adalah “BAPAK.” Heu. 😅 Bener juga sih dia manggilnya gitu. 

Padanya kita belajar tentang kepolosan.

Jogja, 27 November 2016

Hati-hati

​Mengingat secuil isi khutbah pada suatu jum’at.

Taqwa berarti menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Suatu saat Umar bin Khaththab radhiyallahu’anhu bertanya kepada Ubay bin Kaab radhiyallahu’anhu, “Ya Ubay, apa itu taqwa?” Ubay bin Kaab menjawab dengan sebuah pertanyaan, “Bagaimana kau berjalan di jalan yang penuh duri?” Umar menjawab, “Aku akan berhati-hati.” “Itulah Taqwa,” sahut Ubay bin Kaab.

Taqwa juga berarti berhati-hati dalam menggunakan indera. Misalnya dalam menggunakan mulut atau mata. Tidak semua hal yang diketahui harus dikatakan. Pilih yang baik saja. Begitu juga dengan mata, menjaga apa-apa yang dilihat, menjaga pandangan.

Abu Ad-Darda’ radhiyallahu’anhu berkata, “Berbuat adillah dengan satu mulut dan dua telinga yang kau miliki. Hal ini menunjukkan bahwa kau seharusnya lebih banyak mendengar daripada berbicara.”